Mengenai Saya

Foto saya
klaten, jawa tengah
Paguyuban “Manunggal Jati” adalah komunitas pengrajin Mebel yang berada di Gadingwetan, Belangwetan Klaten Utara. berdirinya komunitas ini merupakan representasi dari terakumulasinya sekian banyak permasalahan yang dihadapi selama bertahun-tahun oleh pengrajin mebel khususnya di Belangwetan.
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Oktober 2010

Djawa Tengah Tempoe Doloe



Sejak abad VII, banyak terdapat pemerintahan kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah (Central Java), yaitu: Kerajaan Budha Kalingga, Jepara yang diperintah oleh Ratu Sima pada tahun 674. Menurut naskah/prasasti Canggah tahun 732, kerajaan Hindu lahir di Medang, Jawa Tengah dengan nama Raja Sanjaya atau Rakai Mataram. Dibawah pemerintahan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya, ia membangun Candi Rorojonggrang atau Candi Prambanan. Kerajaan Mataram Budha yang juga lahir di Jawa Tengah selama era pemerintahan Dinasti Syailendra, mereka membangun candi-candi seperi Candi Borobudur, Candi Sewu, Candi Kalasan dll.

Pada abad 16 setelah runtuhnya kerajaan Majapahit Hindu, kerajaan Islam muncul di Demak, sejak itulah Agama Islam disebarkan di Jawa Tengah. Setelah kerajaan Demak runtuh, Djoko Tingkir anak menantu Raja Demak (Sultan Trenggono) memindahkan kerajaan Demak ke Pajang (dekat Solo). Dan menyatakan diri sebagai Raja Kerajaan Pajang dan bergelar Sultan Adiwijaya. Selama pemerintahannya terjadi kerusuhan dan pemberontakan. Perang yang paling besar adalah antara Sultan Adiwijaya melawan Aryo Penangsang. Sultan Adiwijaya menugaskan Danang Sutowijaya untuk menumpas pemberontakan Aryo Penangsang dan berhasil membunuh Aryo Penangsang. Dikarenakan jasanya yang besar kepada Kerajaan Pajang, Sultan Adiwijaya memberikan hadiah tanah Mataram kepada Sutowijaya. Setelah Pajang runtuh ia menjadi Raja Mataram Islam pertama di Jawa Tengah dan bergelar Panembahan Senopati.

Di pertengahan abad 16 bangsa Portugis dan Spanyol datang ke Indonesia. Pada saat yang sama, bangsa Inggris dan kemudian bangsa Belanda datang ke Indonesia juga. Dengan VOC-nya bangsa Belanda menindas bangsa Indonesia termasuk rakyat Jawa Tengah baik dibidang politik maupun ekonomi.

Di awal abad 18 Kerajaan Mataram diperintah oleh Sri Sunan Pakubuwono II, setelah beliau wafat muncul perselisihan diantara keluarga raja yang ingin memilih/menunjuk raja baru. Perselisihan bertambah keruh setelah adanya campur tangan pemerintah Kolonial Belanda pada perselisihan keluarga raja tersebut. Pertikaian ini akhirnya diselesaikan dengan Perjanjian Gianti tahun 1755. Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua kerajaan yang lebih kecil yaitu Surakarta Hadiningrat atau Kraton Kasunanan di Surakarta dan Ngayogyakarta Hadiningrat atau Kraton Kasultanan di Yogyakarta.
Sampai sekarang daerah Jawa Tengah secara administratif merupakan sebuah propinsi yang ditetapkan dengan Undang-undang No. 10/1950 tanggal 4 Juli 1950.

UUN Reksobuwono
dari berbagai sumber

Sabtu, 16 Oktober 2010

Monumen di Klaten

MONUMEN KEPAHLAWANAN DI KABUPATEN KLATEN

1. MONUMEN MBKD

Letaknya di Dk. Pecokan Rt. 07 Rw. 11 Ds. Kepurun Kec. Manisrenggo, diresmikan pada tanggal 19 Desember 1982 oleh Adam Malik, Monumen MBKD merupakan tugu peringatan rakyat semesta untuk memperingati keberhasilan perang Permesta dalam menegakkan kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia.di belakan tugu MBKD ini terdapat prasasti yang berisi perintah kilat dengan tulisan :

  • Kita telah diserang
  • Pada tanggal 19-12-1948 angkatan perang Belanda menyerang kotaYogyakarta dan lapangan terbang Maguwo

· Pemerintah Belanda telah membatalkan persetetujuan gencatan senjata.

· Semua angkatan perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi serangan Belanda., dikeluarkan di tempat tgl. 19-12-1948 jam 08.00 Panglima Besar Angkatan perang Letnan Djendral Soedirman

· 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan RI

· 19 Desember 1948 Perang rakyat semesta berencana dengan penuh kesadaran Nasional mulai digerakkan diseluruh Nusantara untuk mengusir kolonialis Belanda yang mau menjajah kembali Indonesia dan menduduki ibu kota RI Yogyakarta.

· 1 Maret 1949 serangan umum dilancarkan terhadap kolonialisme Belanda di ibu kota RI Yogyakarta pada siang hari dan tentara Nasional Indonesia menguasai Ibu Kota RI selama 6 jam.

· 29 Juni 1949 Perang rakyat semesta memaksa Kolonialis Belanda meninggalkan Indonesia secara berangsur-angsurdimulai dari Ibu kota RI Yogyakarta.

· 1 Mei 1963 Irian Barat kembali ke pangkuan Republik Indonesia dan RI bersih dari Kolonialis Belanda.

Berhasilah perang Rakyat Semesta dalam menegakkan kedaulatan dan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tugu peringatan perang rakyat semesta ini dibangun atas prakarsa Yayasan 13-12-1948 untuk memperingati keberhasilan rakyat semesta dalam menegakkan kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia.

Hingga saat ini setiap tahun diadakan napak tilas jalan Klaten – Kepurun sekitar 25 Km dengan start dari Pemda Klaten dan finish di Monumen MBKD Manisrenggo.


Gambar Monumen MKBD Manisrenggo

2. TUGU PERWARI 17-12-1945
Letaknya di jalan Pemuda ( Pojok Dinas Pendidikan kab. Klaten, Ds. Tegalyoso, Kec. Klaten Selatan diresmikan oleh Prof Dr. Emil Salim ( Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup ) pada tanggal 27 Desember 1986, Monumen/ Tugu Perwari merupakan tugu peringatan bagi Persatuan Wanita Republik Indonesia dalam keikutsertaannya dalam Perang kemerdekaan RI 1945.


Gambar Tugu Perwari

3. MONUMEN JUANG 45 KLATEN
letaknya di jl. Pemuda (GOR Gelar Sena Klaten ), desa. Jonggrangan, kec. Klaten Utara, diresmikan oleh Soepardjo Roestam pada tgl. 20 Mei 1976, Monumen Juang 45 merupakan monumen yang mengabadikan perjuangan bangsa Indonesia khusunya rakyat Klaten, mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan, membangkitkan keyakinan dan kesadaran masyarakat tentang perjuangan fisik bangsa Indonesia. mewariskan nilai-nilai persatuan dan kesatuan tekad jiwa dan semangat juang tahun 1945.



Gambar Monumen Juang 45

4. TUGU PELURU WONOSARI
letaknya di jl . Wonosari – Solo, desa. Pandasan, kec. Wonosaro, diresmikan oleh Bupati Klaten pada tanggal November 1983Monumen Tugu peluru merupakan tugu peringatan bahwa di Wonosari tepatnya di Desa Padasan tanggal 14 Juli 1949 telah terjadi pertempuran antara Laskar Gerilya Arjuna Rayon IV dengan tentara Belanda.



Gambar Tugu Peluru Wonosari

5. MONUMEN KESAKSIAN WONOSARI
Letaknya di desa. Bentangan, kec. Wonosari dibangun tahun 1988, diresmikan : oleh Camat Wonosari Amir Alwan,BA, pada tanggal : 10 November 1989, monumen Tugu Kesaksian merupakan tugu peringatan bagi Tentara Pelajar Detasemen II Brig 17 Umum dan Khusus Kelompok regu sebagai relawan peristiwa Wonosari Kamis Pon 14 Juli 1943 sebagai kenangan Tentara Pelajar Pejuang yang telah gugur dalam peristiwa Wonosari sebagai Pandu Proklamasi 1945, Wonosari Jum’at pahing 10 November 1989.dikanan kiri monumen terdapat prasasti dengan tulisan :

Telah dipugar oleh kawan-kawan seperjuangan bersama masyarakat desa Pandanan dan desa Bentangan pada hari Sabtu legi 9-8-1997.dan disebelah kiri monumen terdapat prasasti dengan tulisan :

Atas nama rakyat desa Pandanan dan desa Bentangan kecamatan wonosasi dan para kepala tentara pelajar detasemen 017 sebagai pelopor peristiwa Wonosari, kamis Pon 14 Juli 1949 telah mendirikan tonggak monumen kepada pahlawan pejuang perang yang telah gugur pada peristiwa Wonosari sebagai pandu Proklamasi.


Gambar Monumen Kesaksian Wonosari

6. MONUMEN / TUGU OBOR
Letaknya di jl . Pramuka ( Depan Stasiun Klaten ) desa . Klaten, kec. Klaten Tengahm dibangun 10 November 1947, diresmikan oleh Bupati Klaten, Monumen/ Tugu Obor merupakan tugu peringatan Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950 dngan bertulskan Granggang Makarti Ngusir Penjajah 1945 Tetep Dadi Trus Merdika 1946 Budi Daya Arjaning Jana Pada.


Gambar Monumen Tugu Obor

7. TUGU WASESO
Letaknya di dukuh. Pandanan RT. 05 RW. 02, desa. Soropaten, kec. Karanganom, dibangun diatas tanah seluas 20 x 20 m dan satu kompleks dengan makam Kyai Karsorejo, dibangun 10 November 1947,Monumen/ Tugu Waseso merupakan tugu peringatan bagi pahlawan dari desa Pandanan yang bernama Kyai Karsorejo, bahwa pada tahun 1935 sampai dengan tahun 1945 Kyai Karsorejo bertemu dengan mantan presiden RI Bung Karno bermusyawarah tentang keberadaan penjajahan Belanda dan saat tahun tersebut, Kyai Karsorejo ditahan oleh penjajah Belanda karena mengibarkan bendera Merah Putih. dan sebagai peringatan dibangunlah prasasti dengan membangun menara setinggi 12,5 m dengan dinamai Tugu Waseso yang pada masa itu berfungsi untuk mengintai musuh, pada saat ini setiap bulan Syura diadakan ritual jamas keris dengan disertai kirab dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk pada setiap malam Jum’at Pon dan setiap bulan Suro masih tetap dilestarikan hingga saat ini dengan mengambil ceritera wayang Bharata Yuda Joyobinangun. Ritual wayang ini sudah sejak tahun 1946 dilaksanakan hingga saati ini

Gambar Tugu Waseso

8. TUGU PELURU KLATEN UTARA
letaknya di jalan Pemuda (Depan Kantor Pertanahan Klaten ), klaurahan Barenglor, Kec. Klaten Utara dibangun 10 November 1947, diresmikan oleh Bupati Klaten, Monumen Tugu peluru merupakan tugu peringatan SERSAN SADIKIN DAN KOPRAL SAYEM karena di tempat dibangunnya tugu ini gugurnya pahlawan sersan sadikin dan Kopral Sayem dalam pertempuran antara Tentara kita TNI melawan dua pesawat Terbang Belanda ( Cocor Merah ) pada Perang Kemerdekaan I bulan Juli 1947.

Gambar Tugu Peluru Klaten Utara

9. TUGU SLAMET RIYADI
Letaknya di dukuh.sidorejo, desa. Sidorejo.kec. Polanharjo, dibangun diatas tanah seluas 10 m x 12 m, pada tahun 1998, diresmikan oleh Bupati Klaten, Monumen Tugu Slamet Riyadi merupakan tugu peringatan Letkol IGN Slamet Riyadi dalam perjuangannya melawan peninn yang dilakukan Belanda di Surakarta menimbulkan perlawanan besar-besaran dibawah pimpinan Letkol Ignatius Slamet Riyadi, peristiwa tersebut dikenal dengan Serangan Umum 4 hari Solo dan pada saat singgah di Desa Sidorejo Kec. Polanharjo bersama-sama dengan rakyat desa Sidorejo pada masa Serangan Umum di Solo dalam melawan Belanda /penjajahan, maka dibangunlah Monumen Slamet Riyadi.

Gambar Tugu Slamet Riyadi

10, MONUMEN PATUNG KEMERDEKAAN SOEKARNO
Letaknya didukuh . Jonggo desa. Karangasem, Kec. Cawas, dibangun, tahun 2002, diiresmikan oleh H.Muhamad Pranada tgl 6 Juni 2002, monumen Patung kemerdekaan Soekarno merupakan tugu peringatan untuk mengabadikan perjuangan Soekarno dan para pejuang Dukuh Jonggo :

– Syamsi Mangun Dimejo dibuang ke Digul tahun 1933 s.d 1937 bersama
Soekarno,

– Syayat Prawiro Dinomo dan Wakiman Ponco Mulyono dibuang ke Pondok
Waluh Jember tahun 1933 s.d. 1935

Monumen ini juga untuk mengenang bahwa Bung Karno pernah singgah di Dukuh Jonggo Desa Karangasem di rumah Syamsul Mangun Dimejo ini datangnya pada jam 08.00 WIB pada bulan Februari 1927 s.d. 1929 untuk menggalang semangat rakyat untuk mengusir semangan penjajahan. Adapun semua pejuang tadi telah menerima penghargaan dari Pemerintah dan mendapat SK Perintis Kemerdekaan dari Presiden. Asal mula gagasan pendirian patung Bung Karno ini dari Kades Karangasem Sdr. Sugiyanto yang juga sebagai keluarga para pejuang. Makam dari para pejuang tadi dibangun oleh pemerintah pusat, sedangkan untuk biaya pembuatan patung dari H.Muhamad Pradana anak Ibu Mega dengan Taufik Kiemas.

Gambar Monumen Patung Sukarno


Oleh : UUN Reksobuwono

Dikutip dari : http://nonobudparpora.wordpress.com/monumentugu-di-klaten/

Disini Kuukir Sejarah


Kabupaten Klaten
Lambang Klaten.png
Lambang Kabupaten Klaten



Locator Kabupaten Klaten.gif
Peta lokasi Kabupaten Klaten
Koordinat : -
Motto Klaten Bersinar
Semboyan '
Slogan pariwisata '
Julukan
Demonim '
Provinsi Jawa Tengah
Ibu kota Klaten
Luas 655,56 km²
Penduduk
· Jumlah 1.121.000 (2003)
· Kepadatan 1.710 jiwa/km²
Pembagian administratif
· Kecamatan 26
· Desa/kelurahan 401
Dasar hukum UU No. 13/1950
Tanggal -
Bupati Sunarno, SE
Kode area telepon 0272
APBD
DAU Rp. 404.869.000.000















Benteng Engelenburg di Klaten (tahun 1929)

Situs web resmi: http://www.klaten.go.id/

Kabupaten Klaten (Bahasa Jawa: Klathèn), adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Klaten. Kabupaten ini berbatasan dengan

Kabupaten Klaten (Bahasa Jawa: Klathèn), adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Klaten. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Boyolali di utara, Kabupaten Sukoharjo di timur, serta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di selatan dan barat. Kompleks Candi Prambanan, salah satu kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, berada di Kabupaten Klaten.


Geografi

Sebagian besar wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah dan tanah bergelombang. Bagian barat laut merupakan pegunungan, bagian dari sistem Gunung Merapi. Ibukota kabupaten ini berada di jalur utama Solo-Yogyakarta.

Pembagian Administrasi

Kabupaten Klaten terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Ibukota kabupaten ini adalah Klaten, yang sebenarnya terdiri atas tiga kecamatan yaitu Klaten Utara, Klaten Tengah, dan Klaten Selatan. Klaten dulunya merupakan Kota Administratif, namun sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, tidak dikenal adanya kota administratif, dan Kota Administratif Klaten kembali menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Klaten. Kecamatan di Klaten :

  1. Bayat
  2. Cawas
  3. Ceper
  4. Delanggu
  5. Gantiwarno
  6. Jatinom
  7. Jogonalan
  8. Juwiring
  9. Kalikotes
  10. Karanganom
  11. Karangdowo
  12. Karangnongko
  13. Kebonarum
  14. Kemalang
  15. Klaten Utara
  16. Klaten Tengah
  17. Klaten Selatan
  18. Manisrenggo
  19. Ngawen
  20. Pedan
  21. Polanharjo
  22. Prambanan
  23. Trucuk
  24. Tulung
  25. Wedi
  26. Wonosari


Sejarah

Asal mula nama

Ada dua versi yang menyebut tentang asal muasal nama Klaten. Versi pertama mengatakan bahwa Klaten berasal dari kata kelati atau buah bibir. Kata kelati ini kemudian mengalami disimilasi menjadi Klaten. Klaten sejak dulu merupakan daerah yang terkenal karena kesuburannya.

Versi kedua menyebutkan Klaten berasal dari kota Melati. Kata Melati kemudian berubah menjadi Mlati. Berubah lagi jadi kata Klati, sehingga memudahkan ucapan kata Klati berubah menjadi kata Klaten. Versi ke dua ini atas dasar kata-kata orangtua sebagaimana dikutip dalam buku Klaten dari Masa ke Masa yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993.

Melati adalah nama seorang kyai yang pada kurang lebih 560 tahun yang lalu datang di suatu tempat yang masih berupa hutan belantara. Kyai Melati Sekolekan, nama lengkap dari Kyai Melati, menetap di tempat itu. Semakin lama semakin banyak orang yang tinggal di sekitarnya, dan daerah itulah yang menjadi Klaten yang sekarang.

Dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat setempat lantas diberi nama Sekolekan. Nama Sekolekan adalah bagian darinama Kyai Melati Sekolekan. Sekolekan kemudian berkembang menjadi Sekalekan, sehingga sampai sekarang nama dukuh itu adalah Sekalekan. Di Dukuh Sekalekan itu pula Kyai Melati dimakamkan.

Kyai Melati dikenal sebagai orang berbudi luhur dan lagi sakti. Karena kesaktiannya itu perkampungan itu aman dari gangguan perampok. Setelah meninggal dunia, Kyai Melati dikuburkan di dekat tempat tinggalnya.

Sampai sekarang sejarah kota Klaten masih menjadi silang pendapat. Belum ada penelitian yang dapat menyebutkan kapan persisnya kota Klaten berdiri. Selama ini kegiatan peringatan tentang Klaten diambil dari hari jadi pemerintah Kab Klaten, yang dimulai dari awal terbentuknya pemerintahan daerah otonom tahun 1950.

Hari jadi

Daerah Kabupaten Klaten semula adalah bekas daerah swapraja Surakarta. Kasunanan Surakarta terdiri dari beberapa daerah yang merupakan suatu kabupaten. Setiap kabupaten terdiri atas beberapa distrik. Susunan penguasa kabupaten terdiri dari Bupati, Kliwon, Mantri Jaksa, Mantri Kabupaten, Mantri Pembantu, Mantri Distrik, Penghulu, Carik Kabupaten angka 1 dan 2, Lurah Langsik, dan Langsir.

Susunan penguasa Distrik terdiri dari Pamong Distrik (1 orang), Mantri Distrik (5), Carik Kepanawon angka 1 dan 2 (2 orang), Carik Kemanten (5 orang), Kajineman (15 orang).

Pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1749, terjadi perubahan susunan penguasa di Kabupaten dan di Distrik. Untuk Jawa dan Madura, semua propinsi dibagi atas kabupaten-kabupaten, kabupaten terbagi atas distrik-distrik, dan setiap distrik dikepalai oleh seorang wedono.

Pada tahun 1847 bentuk Kabupaten diubah menjadi Kabupaten Pulisi. Maksud dan tujuan pembentukan Kabupaten Pulisi adalah di samping Kabupaten itu menjalankan fungsi pemerintahan, ditugaskan pula agar dapat menjaga ketertiban dan keamanan dengan ditentukan batas-batas kekuasa wilayahnya.

Berdasarkan Nawala Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana Senopati Ing Alaga Abdul Rahman Sayidin Panata Gama VII, Senin Legi 23 Jumadikir Tahun Dal 1775 atau 5 Juni 1847 dalam bab 13 disebutkan :

“……………………………….” KratonDalam Surakarta Adiningrat Nganakake Kabupaten cacah enem.

“………………………………” Kabupaten cacah enem iku Nagara Surakarta, Kartosuro, Klaten, Boyolali, Ampel, lan Sragen.

“………………………………” Para Tumenggung kewajiban rumeksa amrih tata tentreme bawahe dhewe-dhewe serta padha kebawah marang Raden Adipati.

Perubahan luas daerah

Luas daerah Kabupaten Klaten mengalami beberapa kali perubahan. Klaten pada mulanya adalah tanpa kecamatan Jatinom dan Polanharjo. Kedua kecamatan semula merupakan wilayah kabupaten Boyolali, dan baru digabungkan tanggal 11 Oktober 1895.

Kelurahan


Rumah orang Belanda di Klaten (tahun 1904)

Semenjak terbentuknya onderdistrik, daerah onderdistrik terdiri dari beberapa dukuh. Sebagian dukuh-dukuh itu merupakan daerah kekuasaan seorang Demang. Gaji seorang Demang berupa tanah pituas.

Luas tanah pituas antara Demang yang satu dan yang lainnya berbeda-beda, sesuai dengan besar kecilnya jasa yang diberikan kepada Kasunanan. Penerima terkecil dinamakan Bekel, kemudian Demang, Ronggo, dan terbesar disebut Ngabei.

Pada tahun 1914 dibentuk kelurahan, yang merupakan penggabungan dari beberapa dukuh. Tanah pituas yang semula untuk gaji Bekel, Demang, Ronggo, dan Ngabei, diberikan pada kelurahan sebagai milik desa yang kemudian menjadi lungguh pamong desa. Struktur organisasi Kelurahan terdiri dari Lurah, Kamituwa, Carik, Kebayan, Modin, dan Ulu-ulu.

Tahun 1957 dilakukan pemblengketan atau penggabungan beberapa kelurahan, atas ketentuan kasunanan bahwa setiap Kelurahan paling sedikit harus berpenduduk 1300 orang. Peristiwa itu dikenal sebagai masa kompleks.


Sebelumnya, di Klaten telah dilakukan penggabungan karena alasan lain. Masa kompleks di Klaten telah terjadi sejak tahun 1917. di beberapa onderdistrik, penggabungan Kelurahan dilakukan karena beberapa Kelurahan tidak mempunyai tanah untuk kas desa maupun untuk lungguh pada pegawainya. (Sumber: Selintas Hasil Pembangunan Kabupaten Klaten, h. 11-15)

Pariwisata


Stasiun kereta api Klaten (tahun 1903-1910)

Di Jatinom, upacara tradisional Sebaran Apem Yaqowiyu diadakan setiap bulan Sapar. Di Palar, Trucuk, Klaten bersemayam pujangga dari Kraton Solo bernama Ronggo Warsito. Keindahan alam dapat dinikmati di daerah Deles, sebuah tempat sejuk di lereng Gunung Merapi. Rowo Jombor tempat favorit untuk melihat waduk. Terdapat juga Museum Gula, di Gondang Winangun yang terletak sepanjang jalan Klaten - Yogyakarta.

Di Kecamatan Tulung sebelah timur terdapat serangkaian tempat bermunculannya mata air pegunungan yang mengalir sepanjang tahun, dan dijadikan obyek wisata. Wisata yang bisa dinikmati di sana adalah wisata memancing dan pemandian air segar. Banyak tempat pemandian yang bisa dikunjungi baik yang berbayar maupun tidak berbayar, seperti Umbul Nilo (gratis), Umbul Penganten (gratis), Umbul Ponggok (berbayar), Umbul Cokro (berbayar) dan umbul lainnya. Namun kalau untuk wisata memancing semua harus berbayar karena dikelola oleh usaha warga. Letak pemancingan yang terkenal adalah di desa Janti. Sambil memancing pengunjung dapat juga menikmati masakan ikan nila, lele, atau mas goreng berbumbu sambel khas dengan harga sangat terjangkau. Tiap hari libur perkampungan ini sering mengalami kemacetan karena membludaknya pengunjung dari kota Solo, Semarang dan Yogya.

Di Kecamatan Bayat, Klaten, tepatnya di kelurahan Paseban, Bayat, Klaten terdapat Makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran atau Sunan Tembayat yang memiliki desain arsitektur gerbang gapura Majapahit. Makam ini menjadi salah satu tempat wisata ziarah Para Wali. Pengunjung dapat memarkir kendaraan di areal parkir serta halaman Kelurahan yang cukup luas. Setelah mendaki sekitar 200 anak tangga, akan ditemui pelataran dan Masjid. Pemandangan dari pelataran akan nampak sangat indah di pagi hari.

  1. Ayam Bakar Klaten
  2. Sate Kambing
  1. Payung Kertas - Juwiring

Pendidikan

Di kabupaten Klaten memiliki beberapa lembaga pendidikan tinggi seperti :

  1. Universitas Widya Dharma Klaten
  2. STIKES Muhammadiyah Klaten
  3. Akademi Akuntansi Muhammadiyah Klaten
  4. Poltekes Negeri Surakarta Jurusan Kebidanan
  5. STIA Madani Klaten
  6. Pusat Kegiatan Belajar Masyrakat(PKBM)Dewi Fortuna
  7. Stikes Duta Gama Klaten

Pedidikan Menengah:

  1. 1. Klaten juga mempunyai sekolah SMU Unggulan yang lulusan/ alumninya sudah tersebar di berbagai bidang. SMU Unggulan di Klaten adalah SMUN 1 Klaten, yang terletak di jalan Merapi, di sebelah stadion Klaten
  2. 2. SMUN 2 Klaten
  3. 3. SMUN 3 Klaten

Pendidikan Dasar:

  1. 1. SMPN 1 Klaten (SMP tertua di Klaten, Lokasi Bareng)
  2. 2. SMPN 2 Klaten
  1. A. SDN 1 Klaten
  2. B. SDN 2 Klaten

seiring dengan perkembangan dan perhatian masyarakat dibidang pendidikan, telah berkembang sekolah swasta seperti :

  1. i SDIT Bias (Tonggalan, Klaten Selatan)
  2. ii SMP IT


Oleh : UUN Reksobuwono